Kerangka Prompt yang Saya Pakai Tiap Minggu
Sembilan kurung yang membuat hasil Claude berhenti terdengar generik, plus tujuh template lengkap siap pakai: caption, thread, email, LinkedIn, blog, sales copy, dan brand voice.

Prompt yang buruk hampir selalu punya masalah yang sama: dia minta hasil tanpa memberi tahu sedang bicara kepada siapa, dan tanpa bilang apa yang tidak boleh. Hasilnya benar secara tata bahasa tapi terasa kosong, karena memang bisa dipakai siapa saja.
Kerangka di bawah ini menutup lubang itu. Bukan mantra, cuma daftar hal yang memang harus disebut. Tujuh templatenya saya taruh utuh, tinggal ganti bagian dalam kurung siku dengan data kamu.
Sembilan kurung
Setiap prompt berisi bagian-bagian ini, selalu dalam urutan yang sama:
- Role, Claude berperan sebagai siapa
- Audience, kepada siapa tulisannya ditujukan, lengkap dengan usia dan kebiasaannya
- Konteks, keadaan yang melatari, misalnya mereka sudah kenal brandmu tapi belum pernah beli
- Task, apa yang harus dikerjakan
- Anti-pattern, apa yang harus dihindari
- Format, bentuk keluarannya
- Output, sesuatu yang siap pakai, bukan penjelasan tentang cara memakainya
- Request, datanya yang spesifik
- Think, perintah berpikir bertahap sebelum menjawab
Dua yang paling sering dilewati adalah Anti-pattern dan Think, dan dua itu justru yang paling besar pengaruhnya.
Anti-pattern bekerja karena model lebih mudah menghindari sesuatu yang disebut daripada menebak seleramu.
1. Caption Instagram
[Role]: Kamu adalah content creator Indonesia
[Audience]: Audiensiku usia 20-35, tech-savvy
[Konteks]: Aku posting di Instagram tentang AI tools
[Task]: Tulis caption hook yang bikin orang berhenti scroll
[Anti-pattern]: Jangan terlalu panjang (max 150 karakter), jangan clickbait
[Format]: Hook + benefit + CTA, line break di tengah
[Output]: Caption siap pakai, bukan penjelasan
[Request]: Topik: [ISI_TOPIK_KAMU]. Buat 3 versi berbeda
[Think]: Think step by step tentang apa yang bikin orang stop scroll
2. Thread X atau Carousel LinkedIn
[Role]: Kamu adalah expert di bidang [BIDANG]
[Audience]: Followers saya: [DESKRIPSI_AUDIENCE]
[Konteks]: Mereka ingin belajar tentang [TOPIK]
[Task]: Buat thread/carousel dengan structure: hook, pain point, solution, proof, CTA
[Anti-pattern]: Jangan terlalu sales, jangan clickbait, jangan vague
[Format]: Setiap slide/tweet max 280 karakter (Twitter) atau 1-2 paragraf (LinkedIn)
[Output]: 7 slide siap pakai, gunakan emoji strategis
[Request]: Topik: [TOPIK_KAMU]. Buat 1 versi lengkap
[Think]: Pikirkan hook mana yang paling attention-grabbing
3. Email Marketing
[Role]: Kamu adalah email copywriter profesional
[Audience]: Subscribers yang: [DETAIL_SUBSCRIBER]
[Konteks]: Mereka sudah kenal brand saya tapi belum convert
[Task]: Tulis email yang persuasif tapi natural, bukan sales-pitch
[Anti-pattern]: Jangan use spam words (FREE, URGENT), jangan terlalu formal, jangan panjang (max 150 kata)
[Format]: Subject line + body email + CTA button
[Output]: Email siap copy-paste, minimal 3 versi subject line
[Request]: Product: [PRODUK]. Goal: [GOAL]. Tone: [TONE]
[Think]: Apa yang bikin email dibuka dan di-click?
4. LinkedIn Profile atau Bio
[Role]: Kamu adalah LinkedIn profile optimizer
[Audience]: Recruitment / partnership opportunities dari: [DETAIL]
[Konteks]: Profile saya perlu lebih menarik dan convertible
[Task]: Tulis headline dan summary yang compelling, bukan generic
[Anti-pattern]: Jangan keyword-stuffing, jangan humblebragging, jangan resume format
[Format]: Headline (120 karakter) + Summary (2-3 paragraf)
[Output]: Siap copy ke LinkedIn, punya personality
[Request]: Job title: [TITLE]. Expertise: [LIST]. Goal: [GOAL]
[Think]: Apa yang bikin someone ingin connect/DM kamu?
5. Blog Post atau Long-Form Content
[Role]: Kamu adalah blog writer yang engaging
[Audience]: Audience saya: [DESKRIPSI]. Problem mereka: [PROBLEM]
[Konteks]: Mereka membaca artikel untuk learn / solve problem
[Task]: Buat outline + opening paragraph yang hook
[Anti-pattern]: Jangan terlalu akademis, jangan rancu, jangan terlalu pendek
[Format]: Outline dengan heading 2-3, setiap section 200-300 kata
[Output]: Outline lengkap siap develop, plus opening hook
[Request]: Topic: [TOPIC]. Target: [GOAL]. Tone: [TONE]
[Think]: Bagaimana cara membuat orang terus membaca sampai akhir?
6. Product Description atau Sales Copy
[Role]: Kamu adalah copywriter yang paham conversion
[Audience]: Ideal customer profile: [DESKRIPSI]
[Konteks]: Mereka masih ragu apakah produk cocok untuk mereka
[Task]: Tulis deskripsi yang fokus ke benefit, bukan feature saja
[Anti-pattern]: Jangan overstate benefits, jangan terlalu sales-y, jangan generic
[Format]: Hook + Problem + Solution + Social proof + CTA
[Output]: Product copy siap pakai untuk landing page / e-commerce
[Request]: Product: [NAMA]. Main benefit: [BENEFIT]. Price: [HARGA]
[Think]: Apa benefit yang paling penting untuk target audience ini?
7. Brand Voice dan Messaging
[Role]: Kamu adalah brand voice strategist
[Audience]: Brand fans: [DESKRIPSI]
[Konteks]: Brand saya perlu konsistensi tone di semua channel
[Task]: Definisikan brand voice dan messaging guidelines
[Anti-pattern]: Jangan terlalu stiff, jangan berubah-ubah, jangan konflik dengan values
[Format]: 3-5 poin karakteristik voice + contoh frase khas brand
[Output]: Voice guide siap dipake tim content
[Request]: Brand: [NAMA]. Personality: [DESKRIPSI]. Industry: [INDUSTRY]
[Think]: Tone apa yang bikin audience connect dengan brand?
Empat kebiasaan yang membuat hasilnya naik
- Selalu sertakan Think. Ini yang membuat Claude menggali, bukan menjawab di permukaan.
- Spesifik dengan datamu. Ganti setiap kurung siku dengan detail nyata, jangan biarkan generik.
- Minta dua sampai tiga versi sekaligus. Membandingkan lebih cepat daripada mengulang dari nol.
- Sunting, jangan mulai ulang. Kalau versi pertama sudah bagus, minta penajaman untuk versi kedua.
Ada yang mau ditanyakan soal tulisan ini? Kirim email.